LK 21 Merespon Positif Pemerintahan Arinal Peduli Konservasi Hutan

Presiden Direktur LK 21 Ir. Edi Karizal/foto koranpagi.co

BANDAR LAMPUNG, koranpagi.co-Lembaga Konservasi 21 merespon positif bila sosok pemimpin peduli terhadap penyelamatan kawasan hutan ataupun konservasi flora dan fauna di Provinsi Lampung.
” Seperti yang sudah dilakukan oleh orang nomor satu di Lampung, yakni Arinal Djunaidi setelah berkunjung ke Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) di wilayah Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS),” ucap Presiden Direktur LK 21, Ir. Edi Karizal kepada awak media, Selasa (11/06/2019).

Meneurutnya, di penghujung pelantikan gubernur terpilih Arinal Djunaidi pada 13 Juni 2019 itu sudah menunjukan dan memberikan respon kepeduliannya terhadap konservasi hutan di Lampung. 

” Mungkin bagi orang yang awam dan ini menjadi sebuah berita biasa. Tapi bagi penggiat lingkungan ini adalah luar biasa, karena biasanya pemimpin daerah sangat lemah dalam perhatian masalah lingkungan hidup,” jelas penggiat senior lingkungan hidup di Provinsi Lampung itu.

Apalagi kalau dicermati, jelas Edi, bahwa ketika komitmennya justru tidak hanya sekedar komitmen terhadap pelestarian ekosistem, tapi juga lebih fokus kepada pelestarian flora faunanya (keanekaragaman hayatinya). 

” Mudah-mudahan ini juga diterjemahkan dalam struktur organisasi pemeritahannya kelak,” ujar mantan Ketua Watala.

Dimana lanjut Edi, bidang yang menangani pelestarian keanekaragaman hayatinya itu di wilayah Lampung, karena sangat kaya dengan spesies-spesies penting. Akan tetapi upaya perlindungan dari pemerintah daerah sebelumnya hampir tidak ada.

Sedangkan perdagangan hidupan liar (spesies penting) di Lampung hanya dilakukan oleh BKSDA saja, yang merupakan organisasi pemerintah pusat dibawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KemenLHK).

” Mudah-mudahan Provinsi Lampung kelak di bawah kepemimpinan Arinal Djunaidi, masalah pelestarian flora fauna dapat diterjemahkan melalui perangkat Dinas di bawahnya, baik di dinas Lingkungan Hidup ataupun di dinas Kehutanan,” harapnya.

Lebih dari itu Edi Karizal menjelaskan, merujuk pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang pelestarian keanekaragaman hayati dan ekosistemnya, berbunyi bahwa kekayaan hayati di luar kawasan di Lampung yang belum tertangani dan perlu perhatian.

” Adalah pertama dari jenis burung, baik daratan maupun burung air besar yang banyak di wilayah Tulang bawang dan pernah disebut sebagai daerah yang memenuhi kriteria IBA (Important Bird Area) oleh Birdlife  International,” katanya.

” Juga berbagai spesies ikan lokal yang semakin punah serta jenis buaya yang masih banyak di perairan tulang bawang yang luput dari perhatian dan perlindungannya,” sambung Edi.

Untuk mengupayakan konservasinya, ujar Edi, maka Lampung butuh Gubernur yang memahami dan memiliki komitmen tinggi terhadap pelestarian lingkungan hidup. 

” Dalam menterjemahkan konsep pelestarian hutan dan Lingkungan Hidup (LH), maka perlu dilakukan sebuah pendekatan perencanaan dan pelaksanaannya berbasis masyakat,” urainya.

Mengingat, tambah Edi, semua kawasan hutan di Lampung dikelilingi oleh masyarakar atau desa, maka konsepnya harus berbasis masyarakat dan juga dikaitkan dengan RPJMDes sesuai dengan UU Desa.

” Sehingga konsep pelestarian lingkungan benar-benar terimplementasi sampai perangkat pemerintahan otonomi terkecil, yaitu desa yang saat ini telah memiliki dana desa yang plot dialokasikan juga untuk kegiatan konservasi,” tutupnya. (din/red).

About The Author

Related posts

Leave a Reply